Sepak terjang jin yang suka mengumbar nafsu
syahwat terhadap manusia sudah sering diungkap di media cetak maupun
media elektronika. Dan hingga kini, kontroversi hubungan intim mahluk
dari dua dunia masih terus bergulir. Ada yang menyatakan bisa, tapi,
banyak pula yang menyatakan tidak mungkin.
Sebagian sosok yang gemar menggeluti dunia supranatural berkomentar, “Mustahil jin akan mampu mengintimi atau diintimi oleh manusia saat dirinya masih berwujud jin. Oleh karena itu, orang bisa mengintimi atau diintimi jin saat dia telah berwujud menjadi manusia.” ucapnya.
Sebagian sosok yang gemar menggeluti dunia supranatural berkomentar, “Mustahil jin akan mampu mengintimi atau diintimi oleh manusia saat dirinya masih berwujud jin. Oleh karena itu, orang bisa mengintimi atau diintimi jin saat dia telah berwujud menjadi manusia.” ucapnya.
Terlepas
dari kontroversi dan pendapat yang beredar di tengah-tengah masyarakat,
pada penghujung tahun lalu, di Di Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg,
Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pernah dihebohkan oleh suatu peristiwa
kejahatan seksual yang dilakukan oleh jin kafir atau biasa dijuluki
Genderuwo Belang terhadap seorang ibu muda beranak dua.
Menurut
tutur yang berkembang, di antara puluhan jenis jin, maka, Genderuwo
Belang tercatat yang paling gampang tergoda birahinya terhadap kaum
wanita dari bangsa manusia. Jadi bukan hal yang aneh jika jin kelas
rendahan ini lebih memilih untuk tinggal di dalam sumur tua atau pohon
kawak di sekitar pemukiman penduduk.
Dan kali ini, yang menjadi
korbannya adalah yang bernama Ny. Wati, 28 tahun, sebut saja begitu.
Perempuan bertubuh sintal ini adalah merupakan isteri dari Ngadino, 36
tahun, dan sekaligus ibu dari dua orang anak. Kurniasih, 10 tahun dan
Rita, 2 tahun. Menurut penuturannya kepada Misteri, sebelum tinggal di
Sleman, suami-istri yang sama-sama tamatan SLTA ini selama 15 tahun
tinggal di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Gajah Mati, Desa Karak,
Kecamatan Bungo, Kabupaten Bungo, Sumatera Selatan.
Wati yang
lahir di Indramayu dan Ngadino asal Tegal, Jawa Tengah itu ikut orang
tua masing-masing sebagai transmigran di Sumatera Selatan. Bak asam di
gunung garam di laut bertemu dalam belanga, meski beda UPT, tetapi, dua
anak muda itu saling jatuh cinta dan menikah di tanah perantauan. Di
tengah-tengah kerimbunan lading cengkeh, cinta kasih keduanya membuahkan
dua orang putri yang cantik-cantik dan lucu.
Dan ketika Rita
berusia setahun, kakek Wati memintan dia segera pulang ke Indramayu
untuk mengelola pabrik beras pusaka peninggalan keluarga mereka secara
turun temurun. Dan setelah mendapatkan izin dan restu ari kedua orang
tua masing-masing, akhirnya, Wati bersama suami serta kedua anaknya
pulang ke kampung halamannya. Indramayu, tepatnya di Sleman. Di tempat
yang baru, Wati bersama keluarganya menempati rumah mungil yang
bangunannya menyatu dengan huller. Sebutan untuk pabrik beras. Sebagai
putri daerah, dalam waktu yang tak begitu lama, Wati pun langsung akrab
dengan warga sekitarnya. Begitu juga Ngadino yang ramah dan rajin sholat
berjamaah di Masjid. Bahkan, hanya dalam waktu beberapa bulan, Ngadino
telah dipercaya untuk menjadi pengurus Jamiyah Al Waqiah guna
mendampingi Ustadz Busro yang mulai uzur serta sudah terlalu lama
menjadi pucuk pimpinan kelompok keagamaan di desa tersebut.
Secara kebetulan, sepanjang lima tahun teakhir, panen musim tanam
rendeng dan musim tanam gadu tahun lalu adalah yang paling bagus
hasilnya. Sudah barang tentu, huller yang dikelola Wati pun menjadi amat
ramai. Sebab setiap kali memasuki penen raya, selain melayani
masyarakat setempat, sejak dulu, huller tersebut juga melayani
kontraktor pengadaan beras Bulog. Seperti biasa, setelah dikurangi bahan
bakar minyak dan upah kuli, sesuai perjanjian, uang yang masuk pada
tiap harinya langsung dibagi dua. 40 persen masuk dompet Wati, sementara
yang 60 persen menjadi hak pemilik huller.
Sebagai lelaki yang
ulet dan enggan berpangku tangan, untuk menambah penghasilan, Ngadino
pun ngobyek gabah dari rumah ke rumah petani baik yang tinggal di satu
desa setempat maupun ke luar wilayah Kecamatan. Sementara, huller
dioperasikan oleh lima orang karyawannya. Seperti biasanya, gabah yang
dibeli dari petani dan telah digiling menjadi beras lalu dibeli
kontraktor pengadaan Bulog dengan selisih harga yang cukup besar.
Tak pelak, tiap harinya, Ngadinopun lebih banyak di luar rumah. Wati
yang mafhum terhadap keberhasilan dan keuletan suaminya benar-benar amat
menikmati keadaan itu, sebagai wanita normal, dia merasa terpuaskan
manakala perhiasan emas melilit leher jenjangnya serta melingkari lengan
dan jari jemarinya. “Pokoknya secara ekonomi, perubahannya amat drastic
ketimbang kami masih tinggal di Sumatera,” aku Wati kepada Kisah
Mistis.
Siang itu hujan mengguyur sangat deras selang beberapa
jam setelah keberangkatan Ngadino ke luar Kecamatan untuk ngobyek gabah.
Para kuli pun dengan tergesa-gesa mengamankan jemuran gabah yang
terhampar di halaman huller. Dan setelah gabah sudah berhasil ditutup
terpal pastik, mereka pun bergerombol di dalam huller sambil minum kopi
dan berbincang ngalor-ngidul.
Sementara itu dapur, Wati sedang
sibuk menyiapkan makan siang buat mereka. Dan untuk menghindari
kejenuhan, Wati sengaja mendengarkan radio FM yang diletakannya di atas
meja dapur. Agaknya, lantunan lagu-lagu dangdut dan celoteh humor sang
penyiar radio mampu meredam suara guyuran hujan di atas genteng.
Sambil bersenandung kecil mengikuti lagu dangdut yang tengah
dilantunkan, jemari Wati pun dengan lincahnya menyiangi sayur dan daun
polong. Di atas kompor, kini, minyak di dalam wajan mendesis-desis dan
berubah riuh manakala sisiran daun polong dan bumbu dimasukkan ke
dalamnya.
Seketika, bau gurih bumbu lodeh langsung memenuhi
kamar dapur yang lumayan sempit itu, tak berapa lama kemudian, cincangan
sayur dan wortel pun dimasukkan ke dalam bumbu ditambah segayung air
dari gentong. Ketika dari corong radio 2 band, terdengar suara sang
penyiar menyatakan akan menutup acara dangdut untuk diganti acara pop
dengan penyiar yang lainnya, karena kurang suka lagu pop, Wati pun
bermaksud menggeser ke frekuensi lain yang menyuguhkan acara dangdut.
Bertepatan dengan memutar badan untuk menghampiri radionya, wanita
berparas cantik itu seketika terlonjak kaget. Rupanya, tanpa disadari,
sejak tadi dia sedang diperhatikan oleh suaminya, Ngadino yang bersandar
pada kusen pintu dapur. Setelah sirna dari rasa terkejutnya, buru-buru,
Wati melempar senyum ke arah suaminya sambil melontarkan pertanyaan
ringan. “Kok buru-buru pulang kang? Gabahnya sudah dapat belum,” tanya
Wati dengan manja. “Cari gabahnya nanti saja. Aku sengaja pulang karena
sudah tak tahan,” jawab Ngadino sambil menyeringai penuh arti dan
melangkah menghampiri isterinya.
Seketika, Wati membalas
pelukan suaminya dengan gerakan manja dan telapak tangannya mendarat di
pundak suaminya. Sejenak kening Wati berkerut. Dia benar-benar merasa
aneh, sementara hujan di luar begitu lebat, tetapi, kenapa baju suaminya
tidak basah. Kenakalan tangan Ngadino, seketika mampu menepiskan
kecurigaan itu. Bahkan, dengan manja Wati pun bergayut di pundak Ngadino
dan keduanya beriringan menuju kamar tidurnya.
Wati sempat
melirik ke serambi rumahnya. Dia melihat Bik Inah, isteri salah seorang
karyawannya sedang mengasuh Rita, sedang Kurniasih masih di sekolah.
Tidak seperti biasanya, kali ini, Wati benar-benar dibuat benar-benar
terkapar oleh suaminya. Selain ganas, hampir satu jam suaminya baru
tuntas. Bertepatan dengan usainya pertarungan birahi, sontak, hidung
Wati mencium bau sangit hingga dengan bergegas ia meninggalkan
ranjangnya menuju dapur. Wati dibuat geram manakala menemukan sayur
lodehnya nyaris menjadi arang dengan asap yang menggumpal. Sambil
menggerutu, Wati terpaksa memasak lagi sayur lodehnya sebelum mandi
besar.
Menjelang Maghrib, truck penuh karung gabah memasuki
halaman huller. Dengan sigap, Ngadino mengatur kuli agar segera
membongkar muatan, setelah itu, ia bergegas memasuki ruang tamu. Di
serambi dia berpapasan dengan istrinya yang tampak cerah.
“Untung aku datang lebih pagi, telat sedikit saja pasti sudah disabet
orang lain. Juragan itu butuh uang banyak untuk menerbangkan anaknya ke
Korea sehingga menjual semua hasil panennya. Rezeki nomplok, Nok,”
demikian celoteh Ngadino di depan istrinya.
Wati balas memuji
keberhasilan suaminya dengan kening berkerut. Ya, dia pantas bingung
mendengar celoteh suaminya. Bagaimana bisa ngomong pagi-pagi, sementara
pukul 10 lewat suaminya baru berangkat lagi mencari obyekan gabah seusai
berhubungan intim dengannya. Apakah salah mengucap ataukah sekadar
melampiaskan rasa bangganya atas perolehan gabah yang memang sangat
banyak.
Keanehan demi keanehan terus mengisi ruang pikiran
Wati, terutama kebiasaan baru suaminya, berangkat pagi buta dan pulang
lagi pukul 9 atau 10 hanya untuk berhubungan badan kemudian berangkat
lagi ngobyek gabah ke luar Kecamatan. Malamnya, akibat serangan kantuk
yang sangat sulit ditepiskan, membuat hasratnya musnah terhadap sentuhan
jemari Ngadino serta bisikan lembut pada daun telinganya.
Beruntung, Ngadino mau berlapang dada atas penolakan Wati yang memang tampakamat mengantuk di balik selimutnya.
Seperti pagi-pagi yang lalu, sebelum memulai aktivitas di dapur, Wati
terlebih dulu mencuci beras di sumur yang terletak di belakang huller.
Walau sumur tua, namun airnya jarang kering serta sejernih air ledeng.
Semasa masih ingusan, Wati sudah biasa menimba air untuk mandi di sana.
Kali ini, sambil menurunkan ember plastik, sepasang mata Wati terus
mengikutinya hingga pantat ember menyentuh permukaan air sumur. Saat
itu, ada getaran kuat dan sangat ganjil merasuki batinnya. Getaran
hasrat wanita dewasa terhadap lelaki yang amat dicintainya. Begitupun
ketika menenteng bakul berisi cucian beras di pinggang kanan dan tangan
kiri menenteng ember berisi air, Wati merasa seolah ada sepasang mata
menatap punggungnya. Didorong penasaran, dia langsung menoleh ke
belakang. Tak ada yang berubah, di sana hanya ada sumur tua. Tak ada
siapa pun selain kesunyian yang mistis.
Keanehan lainnya,
hari-hari terakhir ini entah kenapa Wati begitu gampang terbuai oleh
lamunan. Pikirannya kosong. Hanya dipenuhi oleh hayalan masa lampau yang
menari-nari dengan ritmis lembut dalam ruang jiwanya. Selain gampang
terbuai lamunan, emosinya pun sangat mudah terpancing. Terkadang spontan
marah tanpa sebab dengan sasaran siapa saja yang ada di dekatnya. Tidak
terkecuali Kurniasih bahkan si bungsu yang masih polos.
Lamunannya buyar akibat suara langkah kaki di belakangnya. Buru-buru dia
menoleh ke belakang. Dan beberapa langkah di belakangnya berdiri Inah
dengan tatapan ganjil. Inah pun menyapa majikannya dengan nada iba dan
penuh kasih.
“Kalau boleh, biar saya saja yang menyiapkan makan
siang. Bu Wati kelihatan pucat sekali, jangan-jangan Ibu sedang sakit,”
kata Inah. “Tidak perlu repot, Rita mana?” ujar Wati sambil bertanya.
“Lagi ditemani kang Trisno di huller,” jawab Inah tetap sambil menunduk.
“Jangan ganggu suamimu, bukankah dia sedang bekerja. Sudah sana,”
bentak Wati.
Inah tertegun beberapa saat. Baru kali ini dia
melihat majikannya beraku sekasar itu. Tanpa disuruh duakali, Inah
langsung meninggalkan dapur menuju huller. Belum lagi kejengkelan itu
hilang, kembali Wati dikejutkan suara langkah kaki di belakangnya. Kali
ini dia sudah tidak mau kompromi lagi terhadap Inah. Sambil memutar
badan dia bersiap-siap membentak. Tapi apa daya, suaranya tersangkut di
kerongkongan.
Beberapa langkah di depannya berdiri Ngadino
dengan tatapan penuh hasrat. Dan kali ini, untuk pertamakalinya dia
menegur suaminya yang doyan menyusup ke dapur saat dirinya mulai
memasak. Wati tidak mendapat jawaban selain rengkuhan hangat dari
Ngadino. Jika sudah direngkuh seperti itu, maka, hasrat kewanitaannya
langsung terpancing. Hingga tanpa banyak pertanyaan lagi, Watipun
langsung mengikuti langkah suaminya menuju peraduan.
Seperti
biasa, cumbuan yang panas pun terjadi. Kini, pakaian keduanya mulai
tercecer di lantai. Dan di balik selimut, mulut dan tangan keduanya
sibuk dengan aktivitas birahi yang bergelora. Pada detik-detik
selanjutnya, yang terdengar hanyalah erangan dan rintihan dari celah
bibir Wati mengimbangi orang yang dicintainya tengah mengayuh
kenikmatan.
Setengah jam berlalu begitu cepat, dan kain selimut
sudah melorot ke lantai. Kini keduanya mengayuh kenikmatan tanpa
selembar penutup pun. Sebelum puncak birahi berhasil dicapai, daun pintu
didobrak dari luar disusul cairan bening yang mengguyur punggung
Ngadino dan sebagian membasahi dada Wati.
Hanya dalam hitungan
detik setelah diguyur air bening, sontak, Wati merasakan ketakutan luar
biasa. Betapa tidak, sosok laki-laki yang ada di atas tubuhnya menggeram
sangar dan tubuhnya bertambah berat menindihnya. Sebelum Wati sadar
dengan apa yang telah terjadi, lengannya dibetot sangat kuat hingga
tubuhnya terseret ke atas lantai.
Secara reflek, Wati buru-buru
menyambar kain selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Seketika Ngadino
merengkuh tubuh Wati dengan penuh kasih. Sementara, di sampingnya tampak
Ustadz Busro yang terus menerus membacakan ayat suci dengan ritme
sangat cepat.
Sementara di atas ranjang yang ada bukan Ngadino,
melainkan sosok bugil sangat mengerikan. Tubuhnya begitu besar nyaris
memenuhi permukaan ranjang. Dan yang paling mengerikan adalah bentuk
wajahnya. Wajah dan tubuhnya berkulit Zebra, berambut gimbal juga
menguarkan bau apek yang teramat menyengat dan memenuhi ruang kamar
tidur itu.
Makhluk menyeramkan itu menggerung-gerung histeris,
karena kesakitan yang tak teranggungkan. Pada bagian punggung yang
terkena siraman air mengepulkan asap bak air raksa yang melelehkan
logam. Dan pelan-pelan makhluk itu duduk di atas ranjang dengan kepala
nyaris menyentuh penyangga kelambu.
“Tidak kusangka, engkau
ternyata Genderuwo Belang terkutuk!” bentak Ustadz Busro. “Ampun panas!”
ujar makhluk itu. “Baik, engkau saya ampuni. Tapi, sebelum saya lepas,
ada syarat yang harus kamu kerjakan. Sanggup?” tanya Ustadz Busro.
“Katakan manusia. apa syaratnya?” tanya makhluk itu. “Pertama,
bersihkan segala kotoranmu yang ada pada Wati. Kedua, tinggalkan sumur
tua itu dan jangan ulangi perbuatan bejatmu kepada wanita manapun dari
bangsa manusia. Lakukan syarat itu, lekas!” bentak Ustadz Busro.
Makhluk itu lenyap dalam sekejap, seiring Wati seolah merasakan ada
sengatan listrik yang keluar dari alat vitalnya. Akibatnya, Wati pun
terkulai tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya, Ngadino.
Wati tak sadarkan diri nyaris seharian dan baru siuman bertepatan dengan lantunan adzan Maghrib dari corong Masjid.
Semoga pembaca sekalian dapat mengambil hikmah dari kisah ini. Betapa,
iblis tak jemu-jemu menggoda manusia sampai akhir dunia tiba.


0 komentar: